TRAGEDI ORANG LAMA - SOROTAN TV

Selasa, 03 Februari 2026

TRAGEDI ORANG LAMA

Oleh INOKI ULMA TIARA

Politik bukan museum. Ia tidak memajang jasa lama untuk dikagumi, lalu menjadi tiket gratis agar tetap masuk panggung. Politik bekerja seperti pasar    siapa yang tidak laku, akan tergeser. Bukan karena dunia jahat. Tapi karena publik punya selera yang terus berubah. Nama Ujang pernah besar, itu fakta. Ia tumbuh dari organisasi, naik dari bawah, pernah duduk di pucuk pimpinan lembaga legislatif daerah kabupaten. Pada masanya, ia kuat. Pada masanya, ia menentukan.

Masalahnya sederhana dan pahit karena  masa itu sudah lewat. Dalam rekapitulasi hasil Pemilu DPRD tahun 2024, perolehan suara Ujang di Dapil nya tidak sampai 200 suara, sementara suara pemenang mendekati dua ribu suara. Ini bukan sekadar kalah, ini kalah jauh. Dan selisih sebesar itu bukan “kurang hoki”, ini lebih mirip lampu merah menyala terang dan  publik sedang berpesan Ujang harusnya  berhenti” 

Yang miris lagi,  ketika kekalahan berulang  terjadi dari pemilu ke pemilu, politik harusnya menjadi cermin. Sekali kalah bisa disebut kecelakaan. Empat kali kalah (atau berkali-kali kalah berturut-turut) dibaca oleh publik sebagai satu kalimat pendek bahwa ujang tidak lagi dipercaya, bukan karena seseorang menjadi buruk, tapi karena politik tidak hanya hidup dimasa lalu sebagai koin emas yang bisa dipakai terus-menerus.

Kalah itu normal dalam demokrasi, yang tidak normal adalah hidup dari “kekalahan”. Jadi tragedi  ketika seseorang menjadikan kekalahannya  sebagai identitas, lalu mengubah politik menjadi panggung balas dendam atas kekalahannya.

Di ruang publik muncul narasi tentang kebiasaan Ujang “menggugat”: menggugat figur-figur besar, menggugat struktur, menggugat ini-itu. Setidaknya, terdapat jejak perkara Ujang sebagai penggugat dalam perkara yang mencantumkan orang nomor 1 di RI sebagai tergugat, pemerintah daerah dan juga yang lainnya. Sampai di sini, jangan buru-buru suuzan karena menggugat itu hak warga negara.. “Menggugat” bukan dosa, tapi politik bukan hanya pengadilan moral. Karena   publik membaca pola Ujang  pola dimulai oleh kalah → marah → menyerang → merasa paling benar → dan mengulanginya lagi.

Begitu pola itu terbaca, kritik yang paling masuk akal pun jadi sulit diterima. Bukan karena isinya salah, tapi karena pengirimnya dianggap sedang tidak jernih. Kritik yang kehilangan wibawa saat suara terdengar seperti dendam dan kebencian.

Kritik harusnya  menjadi kehormatan, tapi kritik juga bisa berubah menjadi barang murahan ketika ia datang dengan energi yang salah, target yang sama, dan nada yang sama dan seolah dunia selalu salah, sementara diri sendiri yang selalu benar.

Di titik itu, publik wajar bertanya ini perjuangan moral, atau ketidakmampuan menerima kenyataan. Karena ada dua jenis kritik, pertama, kritik yang lahir dari kepedulian yaitu  berbasis data, menawarkan jalan keluar, dan siap diuji. Kedua, kritik yang lahir dari barisan sakit hati yaitu pokoknya semua orang/pemerintah  salah, miskin solusi, hanya asumsi, dan selalu menyisakan satu tokoh yang suci yaitu dirinya sendiri. Kritik jenis kedua biasanya tidak memperbaiki sistem. Ia hanya membuat pengkritiknya tetap terasa “penting”, ketika kritik melahirkan konflik adalah  cara tercepat untuk kembali terlihat.

Dan disinilah politik memberikan penilain karena banyak “orang lama” tidak sadar  ketika mereka makin bising, publik tidak selalu melihatnya sebagai keberanian. Publik sering membacanya sebagai cara mencari perhatian. Post power syndrome yaitu kata yang sering dipakai, tapi jarang mau diakui.

Istilah lain yang sering muncul dalam pembicaraan tentang tokoh yang sulit menerima “turun panggung” atau post power syndrome. Post power syndrome dijelaskan sebagai kondisi kejiwaan yang umumnya dialami orang yang kehilangan kekuasaan/jabatan/aktivitas yang dulu membuatnya aktif, sehingga muncul ketidaknyamanan dan penurunan harga diri. Penting dicatat tentang  konsep ini, bukan stempel diagnosis untuk individu tertentu. Tapi konsep ini berguna untuk membaca fenomena  ketika jabatan terlalu lama melekat pada seseorang dan telah menjadi identitas, sehingga kehilangan jabatan artinya kehilangan identitas dan harga diri.

Yang terjadi kemudian  bukan sekadar “ingin menang lagi”. Namun ingin kembali dianggap penting. Dan ketika pintu legitimasi elektoral tertutup (kalah pileg), sebagian orang beralih ke pintu legitimasi moral dengan cara bicara paling lantang, paling keras, paling menghakimi dan seakan-akan suara keras dan lantang seakan-akan bisa menggantikan manfaat. Padahal demokrasi tidak bekerja begitu, demokrasi tidak menilai siapa suara  yang paling keras dan lantang. Namun demokrasi menilai siapa yang bisa dipercaya karena bermanfaat.

Tragedi paling sunyi Ujang  bukan dibenci, tapi diabaikan. Orang sering takut dibenci. Padahal dibenci itu masih mempunyai energi, artinya orang masih menganggap anda penting. Yang paling menyakitkan justru diabaikan. Perolehan suara Ujang di pemilu legislatif 2024 hanya  tidak sampai 200 suara, itu bukan cuma angka. Itu adalah jenis kekalahan yang paling sunyi bahwa  publik tidak sedang marah namun publik tidak lagi peduli.  Dan ini yang membuat tragedi orang lama jadi benar-benar tragis karena  ia masih merasa dirinya pusat gravitasi, sementara publik sudah memindahkan kepercayaan ke orang lain.

Kalau publik menilai tokoh lain lebih hadir, lebih bekerja, dan lebih memberi jalan keluar maka publik akan memilih tokoh lain. Sesederhana itu, dan di sinilah orang lama sering salah paham karena  mereka mengira sejarah memberi mereka “hak khusus” yaitu seolah-olah masa lalu  berutang pada mereka. Tidak, Sejarah tidak berutang suara. Pengalaman tidak otomatis jadi legitimasi, dan jasa masa lalu tidak otomatis berubah jadi mandat masa depan.

Jalan keluar yang bermartabat untuk Ujang adalah menepi atau berevolusi. Ada dua cara terhormat menghadapi musim berganti. Pertama  menepi dengan elegan. Menjadi elder statesman lokal yaitu membina kader muda, memberi masukan, menjadi penguat institusi tanpa harus memaksakan diri terus menjadi kandidat. Kedua, berevolusi sungguh-sungguh. Turun ke akar rumput, membangun kerja nyata bertahun-tahun, mengganti gaya bahasa politik, memperbaiki relasi sosial, dan menerima bahwa “nama besar” tidak lagi cukup untuk keadaan hari ini. Yang memalukan adalah opsi ketiga  yaitu memaksa panggung lewat keributan. Karena keributan tidak pernah mendapatkan kepercayaan. Ia hanya menggantikan kesunyian sementara kepercayaan tetap tidak kembali.

Demokrasi itu kejam, tapi adil pada satu hal. Demokrasi memang tidak selalu menghasilkan yang terbaik. Tapi ia jujur pada satu hal yaitu tentang siapa yang masih dipercaya. Dan ketika angka kepercayaan menunjukkan jarak yang sangat jauh, pesan publik seharusnya dibaca bukan dengan marah, tapi dengan tenang bahwa ada sesuatu yang harus diubah atau ada sesuatu yang harus dilepas. 

Politik bukan museum. Ia tidak peduli siapa kita “dulu”. Ia hanya peduli tentang apa gunamu hari ini. Dan kebenaran paling pedas dalam politik adalah zaman tidak pernah salah, yang salah hanyalah mereka yang menolak berubah dan hidup dengan kebanggaan masa lalu.

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda